CILEGON, – Upacara bendera di SMP Negeri 8 Kota Cilegon, Senin (14/9/2026), berlangsung berbeda dari biasanya. Para siswa tidak hanya mengikuti rangkaian upacara, tetapi juga mendapat pembinaan langsung dari unsur kepolisian.
Kanit Syafrudin dari kepolisian bersama Babinsa Afandi hadir sebagai pembina upacara. Kehadiran keduanya dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya ketertiban dalam belajar sekaligus mengingatkan siswa agar menjauhi berbagai bentuk kenakalan remaja.
Kepala SMPN 8 Cilegon, Yosie Kristin Pandriyani, M.Pd., mengatakan kehadiran aparat di tengah lingkungan sekolah mendapat respons positif dari para siswa.
"Alhamdulillah anak-anak sangat antusias dengan kedatangan Pak Polisi, Pak Syafrudin sebagai Kanit dan Pak Afandi sebagai Babinsa," ujar Yosie.
Menurut dia, antusiasme siswa semakin terlihat setelah upacara selesai. Para siswa diarahkan untuk duduk dan mengikuti sesi tanya jawab secara langsung bersama pa kanit.
Dalam kesempatan tersebut, siswa kembali diingatkan untuk menjaga ketertiban, mendengarkan nasihat orang tua, serta menghormati dan mengikuti arahan guru di sekolah.
"Intinya menjaga ketertiban, mendengarkan nasihat orang tua dan nasihat guru," katanya.
Yosie menilai pola pembinaan langsung seperti ini penting karena siswa mendapatkan pengalaman berbeda ketika pesan-pesan pendidikan disampaikan oleh tokoh dari luar lingkungan sekolah.
Ia mengatakan, pihak sekolah bahkan telah mendapat informasi sejak Jumat bahwa jajaran kepolisian akan mengikuti upacara bendera di SMPN 8 Cilegon.
"Kami siap dan kami senang. Apalagi kalau ada orang-orang dari luar yang menjadi pembina, anak-anak akan lebih antusias," ujarnya.
Berharap Pembinaan Tidak Sekadar Seremonial
Yosie berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Ia mendorong agar program pembinaan dari kepolisian dapat dilakukan secara rutin, misalnya sebulan sekali.
"Harapan saya mudah-mudahan dari Kapolsek sendiri rutin, Entah sebulan sekalilah," katanya.
Menurut dia, pembinaan siswa juga tidak harus selalu datang dari kepolisian. Sekolah terbuka terhadap keterlibatan berbagai instansi maupun praktisi yang memiliki kompetensi untuk memberikan edukasi kepada pelajar.
Ia mencontohkan keterlibatan Badan Narkotika Nasional (BNN), Dinas Pertanian, maupun praktisi dari berbagai bidang lainnya.
"Harapan saya juga bukan dari kepolisian saja. Dari praktisi juga boleh, seperti dari BNN, Dinas Pertanian dan lainnya. Jadi anak-anak punya contoh dan orang-orang yang bisa membimbing mereka," tutur Yosie.
Menurutnya, kehadiran berbagai pihak di sekolah bukan sekadar untuk mengisi agenda upacara. Lebih dari itu, interaksi langsung dengan siswa dapat menjadi ruang edukasi sekaligus membangun karakter dan kedisiplinan sejak dini.
Sekolah berharap sinergi antara dunia pendidikan, kepolisian, dan berbagai instansi lainnya dapat terus diperkuat. Dengan begitu, upaya mencegah kenakalan remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan orang tua, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, tertib, dan positif bagi pelajar.

