Pengrajin Tempe di Waringinkurung Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

Pengrajin Tempe di Waringinkurung Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai

Monday, 18 May 2026

SERANG,— Kenaikan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah turut dirasakan pelaku usaha kecil, termasuk pengrajin tempe di Kampung Lebak, RT 05 RW 02, Desa Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung. Harga kedelai impor yang terus naik membuat para produsen harus memutar otak agar usaha tetap berjalan tanpa membebani pelanggan.

Mursidin, pemilik usaha tempe rumahan yang telah berdiri sejak 1995, mengatakan usaha yang dirintisnya hampir memasuki usia 30 tahun. Menurut dia, kondisi usaha saat ini sebenarnya lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu karena adanya tambahan pasokan untuk dapur program MBG.

“Kalau dibanding dulu, sekarang alhamdulillah lebih baik. Soalnya kita juga menyuplai ke dapur MBG,” ujar Mursidin saat ditemui, Senin (18/5/2026).

Meski demikian, penguatan dollar AS tetap memberi dampak besar terhadap usaha tempe yang bergantung pada bahan baku kedelai impor. Ia menilai dampak paling terasa ialah menurunnya daya beli masyarakat.

“Kalau dollar naik, harga kedelai juga ikut naik. Yang terasa itu daya beli masyarakat jadi berkurang,” katanya.

Saat ini, harga tempe yang dijualnya masih dipertahankan Rp 4.000 per bungkus. Namun, untuk menghindari kenaikan harga jual, ia memilih mengurangi ukuran tempe dibandingkan menaikkan harga.

“Kita enggak berani naikin harga. Yang paling kita kurangin takarannya,” ujar dia.

Menurut Mursidin, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat di lingkungan kampung.
Ia khawatir pelanggan justru berhenti membeli jika harga dinaikkan.

“Kalau untuk menaikkan harga kayaknya enggak dulu. Namanya juga di kampung. Jadi kita pilih mengecilkan ukuran saja, tapi kualitas tetap dijaga,” katanya.

Produksi tempe yang sebelumnya sekitar 50 kilogram per hari kini bisa mencapai 100 kilogram per hari. Namun, peningkatan produksi tidak serta-merta membuat keuntungan bertambah besar karena biaya operasional ikut melonjak.

Selain kedelai, harga plastik kemasan juga naik tajam. Jika sebelumnya plastik seharga Rp 30.000 per kilogram, kini mencapai lebih dari Rp 50.000 per kilogram.

“Plastik sekarang naik hampir 100 persen,” ucapnya.

Mursidin mengaku masih mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak dari usaha tersebut. Namun, ia tetap khawatir apabila harga bahan baku terus meningkat.

“Yang saya khawatirkan kenaikannya lebih tinggi lagi, apalagi kalau dollar makin naik,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah agar harga kedelai kembali turun dan pelaku usaha kecil tidak semakin terbebani.

“Harapannya semoga pemerintah bisa menstabilkan lagi harga kedelainya,” ujar dia.

Di tengah berbagai tantangan, Mursidin mengaku belum terpikir untuk beralih usaha. Baginya, yang terpenting saat ini ialah menjaga produksi tetap berjalan.

Menurut dia, banyak masyarakat kota yang hanya melihat tempe sebagai produk jadi tanpa mengetahui proses panjang di balik produksinya.

“Orang tahunya cuma jadinya saja. Padahal dari mulai merebus sampai mencuci itu butuh perjuangan,” katanya.

Keluhan pelanggan yang paling sering diterima ialah ukuran tempe yang semakin kecil. Namun, ia berusaha memberi pemahaman bahwa kondisi tersebut terjadi akibat kenaikan harga bahan baku.

“Pelanggan bilang ukurannya makin kecil. Ya kita kasih penjelasan karena dollar naik, harga-harga juga ikut naik,” ujar Mursidin.