
SERANG — Jam masih menunjukkan pukul 07.30 WIB ketika halaman MA Al-Khairiyah Pontang mulai dipadati siswa yang datang untuk mengikuti seminar kesehatan, Jumat (7/8/2026). Sekitar 50 siswa memenuhi ruangan, sebagian besar dari mereka membawa gawai yang sehari-hari menemani belajar sekaligus, tak jarang, menjadi sumber keluhan mata lelah dan pandangan kabur.
Seminar bertajuk "Mata Segar, Tubuh Bugar, Batasi Layar, Maksimalkan Gerak" ini digagas oleh empat kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertugas di Kecamatan Pontang, yaitu KKM 30, 31, 32, dan 33. Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja bersama di bidang Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan Masyarakat, sekaligus upaya mahasiswa menjawab persoalan yang semakin lazim ditemui di kalangan pelajar: ketergantungan pada layar digital tanpa disertai kesadaran menjaga kesehatan.
Acara dibuka dengan registrasi peserta, dilanjutkan sambutan dari Ketua Pelaksana Aldi Ramadhan Ru'yat, Dosen Pembimbing Lapangan sekaligus Koordinator Kecamatan Pontang Raden Irna Afriani, S.E., M.Ak., serta Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MA Al-Khairiyah Pontang, Rian Saputra, S.Pd. Ketiganya menyampaikan harapan agar kegiatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan bekal pengetahuan yang benar-benar dipraktikkan siswa dalam keseharian mereka.
Memasuki sesi inti, giliran Tiyas Budirahayu, S.Kep., tenaga kesehatan dari Palang Merah Indonesia (PMI), tampil sebagai pemateri dengan dipandu moderator Alam Saputra. Ia mengupas dampak penggunaan gawai, laptop, dan berbagai perangkat digital lain terhadap kesehatan mata — mulai dari mata lelah, mata kering, hingga pandangan kabur yang kerap dianggap sepele oleh remaja.
Salah satu poin yang paling banyak menyita perhatian peserta adalah aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik. Kebiasaan sederhana ini, menurut pemaparan Tiyas, cukup efektif meredakan ketegangan otot mata akibat paparan layar yang terus-menerus. Selain itu, peserta juga diajak memperhatikan pencahayaan ruangan, mengatur jarak pandang ke layar, mencukupi asupan nutrisi, dan menghindari kebiasaan mengucek mata yang justru berisiko memperparah iritasi.
Diskusi tidak berhenti pada urusan mata. Materi juga menyinggung pentingnya menyeimbangkan waktu di depan layar dengan aktivitas fisik — sesuatu yang menurut PMI kerap luput dari perhatian remaja yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan bermain gawai secara bergantian. Peserta juga diperkenalkan pada tanda-tanda gangguan penglihatan yang perlu diwaspadai, sekaligus pentingnya pemeriksaan mata berkala sejak usia sekolah.
Sesi tanya jawab berlangsung cukup hidup. Beberapa siswa memanfaatkan kesempatan untuk bertanya langsung soal kebiasaan mereka sehari-hari, dari durasi bermain ponsel hingga cara mengenali gejala mata lelah yang sering mereka alami sendiri.
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada Tiyas Budirahayu sebagai bentuk apresiasi, dilanjutkan sesi foto bersama yang mempertemukan narasumber, dosen pembimbing lapangan, pihak sekolah, panitia, dan seluruh peserta.
Bagi mahasiswa KKM, seminar ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan. Sementara bagi siswa MA Al-Khairiyah, materi yang disampaikan diharapkan tidak berhenti sebagai catatan di buku, melainkan kebiasaan yang benar-benar dijalankan: sesekali melepas pandangan dari layar, dan lebih sering menggerakkan tubuh.

