Desa Wisata Tak Harus Mewah, Sasahan Pilih Rawat Alam dan Warisan Kuliner - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

Desa Wisata Tak Harus Mewah, Sasahan Pilih Rawat Alam dan Warisan Kuliner

Thursday, 17 September 2026
SERANG, — Desa wisata tidak selalu harus identik dengan gemerlap wahana, hotel mewah, waterboom, atau vila yang berdiri di tengah kawasan alam.

Bagi Desa Sasahan, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, konsep desa wisata justru diarahkan pada upaya menjaga warisan alam, budaya, kuliner, serta produk UMKM yang tumbuh dari masyarakat setempat.

Kepala Desa Sasahan, Kharuji, menyampaikan pandangan tersebut saat berbincang santai di Kantor Desa Sasahan, Kamis (17/9/2026).

Menurut Kharuji, alam dan kekayaan desa merupakan warisan yang harus dijaga agar tetap dapat dinikmati masyarakat dan generasi berikutnya.

“Desa wisata tidak harus memiliki waterboom, air terjun, atau vila-vila mewah. Desa wisata itu adalah warisan atau alam desa kita yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar Kharuji.

Ia menegaskan, pengembangan wisata menurutnya tidak semestinya mengorbankan keberadaan kawasan alam desa. Salah satu perhatian yang disorot adalah potensi beralihnya kepemilikan lahan dan hutan kepada pihak dari luar desa.

“Kita harus menjaga desa kita dari penjualan hutan yang kemudian berpindah tangan kepada orang jauh,” katanya.


Selain potensi alam, Desa Sasahan juga memiliki kekayaan kuliner lokal yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Kharuji menyebut sejumlah makanan dan olahan khas yang ingin terus diperkenalkan dalam berbagai kegiatan, termasuk pameran.

Di antaranya DGS atau duren gablugan Sasahan, gimail-gimel yang merupakan gipang berbahan buah melinjo, serta kutang kumel yang dibuat dari kulit melinjo.

Ada pula salak nano-nano dengan beragam rasa, gemblong tunu yang disajikan dengan cocol daging kerbau, hingga emping ceplos dengan berbagai varian rasa.

“Ini adalah budaya makan asli dari Desa Sasahan. Kalau ada rangkaian acara, ini yang kami tampilkan dalam kegiatan-kegiatan pameran,” ujar Kharuji.

Menurut dia, keberadaan kuliner tradisional tersebut bukan sekadar produk makanan, tetapi juga bagian dari cerita dan identitas desa yang perlu dipertahankan.

“Selebihnya ada emping ceplos, berbagai rasa emping mentah yang juga dijual untuk umum,” katanya.

Tak berhenti pada kuliner, Desa Sasahan juga memiliki potensi ekonomi kreatif melalui produk UMKM.

Salah satu yang disebut Kharuji adalah produksi pisau khas Sasahan.

Produk tersebut menjadi bagian dari potensi masyarakat yang ingin terus dikembangkan sebagai identitas sekaligus sumber ekonomi warga.

“Yang lebih penting, kami juga punya UMKM yang memproduksi pisau Sasahan,” ujarnya.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak semata-mata bertumpu pada pembangunan fisik. Potensi alam, tradisi kuliner, keterampilan warga, hingga produk UMKM dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang berbasis pada karakter lokal.

Bagi Sasahan, desa wisata bukan tentang seberapa mewah bangunan yang dapat didirikan, melainkan seberapa kuat masyarakat mampu mempertahankan warisan desa sekaligus mengubahnya menjadi sumber manfaat ekonomi tanpa kehilangan identitasnya.