Ratusan Kuli Panggul Pasar Induk Tanah Tinggi sampaikan Aspirasi, Minta Manajemen Dalam Lakukan Sosialisasi Libatkan Para pekerja untuk Mengambil Kebijakan - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

Ratusan Kuli Panggul Pasar Induk Tanah Tinggi sampaikan Aspirasi, Minta Manajemen Dalam Lakukan Sosialisasi Libatkan Para pekerja untuk Mengambil Kebijakan

Monday, 27 July 2026
 
WARTA GLOBAL BANTEN.Id -
Perwakilan buruh serep atau buruh bantu di salah satu pasar mengaku merasa khawatir atas beredarnya informasi mengenai rencana penertiban terhadap pekerja nonresmi yang disebut akan diberlakukan mulai 1 Agustus. Hingga saat ini, menurut mereka, belum ada pemberitahuan resmi secara tertulis maupun sosialisasi langsung dari pihak manajemen.

Dalam wawancara dengan awak media, perwakilan buruh menyebut jumlah buruh serep yang bekerja di pasar tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 100 orang pada siang hari dan meningkat menjadi sekitar 200 hingga 350 orang pada malam hari.

Menurut keterangan narasumber, buruh yang terdampak rencana penertiban merupakan buruh serep atau buruh bantu yang selama ini membantu aktivitas bongkar muat di lingkungan pasar.

Para buruh juga menyampaikan bahwa informasi mengenai kebijakan tersebut hanya mereka peroleh secara lisan dan dinilai masih simpang siur. Mereka mengaku belum pernah menerima surat resmi ataupun diundang dalam forum musyawarah maupun sosialisasi terkait rencana tersebut.

"Kami berharap jika memang ada kebijakan baru, disampaikan secara tertulis, dilakukan sosialisasi, dan ada musyawarah bersama para buruh," ujar salah satu narasumber.

Perwakilan buruh, Rio, yang mengaku mewakili pekerja di sejumlah blok pasar, mengatakan hingga saat ini belum ada pekerja yang diberhentikan. Namun, menurut informasi yang beredar di kalangan pekerja, penertiban disebut-sebut direncanakan berlangsung pada 1 Agustus, meski belum ada kepastian resmi.

Selain meminta kejelasan informasi, para buruh berharap manajemen membuka ruang dialog dengan perwakilan pekerja sebelum mengambil keputusan yang berdampak terhadap mata pencaharian mereka.

Menurut Rio, keberadaan buruh serep selama ini menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas bongkar muat barang di pasar. Ia menilai tenaga buruh resmi sering kali membutuhkan bantuan tambahan agar proses distribusi barang berjalan lebih cepat.

"Selama ini kami membantu pekerjaan bongkar muat. Ketika tenaga resmi tidak mencukupi, kami diminta membantu agar pekerjaan selesai lebih cepat," katanya.

Para buruh juga berharap keberadaan mereka mendapat pengakuan secara resmi. Mereka mengaku telah bekerja selama bertahun-tahun, bahkan sebagian telah mengabdi lebih dari 10 hingga 20 tahun.

"Kami berharap bukan dihapus, tetapi apabila memang dibutuhkan, keberadaan kami bisa dipertimbangkan untuk diakomodasi secara resmi," ujar Rio.

Senada dengan itu, salah seorang buruh resmi menyatakan bahwa keberadaan buruh serep dinilai membantu kelancaran pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, tanpa bantuan buruh serep, proses bongkar muat berpotensi mengalami keterlambatan.

Hingga berita ini disusun, pihak manajemen pasar yang disebut oleh narasumber belum memberikan keterangan atau tanggapan resmi terkait informasi mengenai rencana penertiban buruh serep maupun mekanisme kebijakan yang dimaksud.