
SERANG, WartaGlobal BANTEN — Biaya Wisuda Rp3.000.000 dan Angkat Sumpah Universitas Faletehan sebesar Rp2.500.000 menuai pertanyaan dari sejumlah mahasiswa. Sorotan tidak hanya tertuju pada nominal, tetapi juga pada rincian komponen biaya, fasilitas yang diterima, lokasi pelaksanaan, serta transparansi pembiayaan wisuda.
Mahasiswa menilai sejumlah komponen dalam biaya wisuda perlu dijelaskan secara lebih terbuka, terutama iuran alumni dan sumbangan perpustakaan yang tercantum dalam fasilitas pembiayaan.
Rp2.500.000 - Rp3.000.000 untuk Wisuda, Iuran Alumni dan Sumbangan Perpustakaan Dipertanyakan. Sorotan utama mahasiswa tertuju pada biaya Wisuda dan Angkat Sumpah Universitas Faletehan yang tercantum sebesar Rp3.000.000.
Dalam surat pemberitahuan Wisuda dan Angkat Sumpah Universitas Faletehan Nomor 764/UF/BA/S/VIII/2026, tercantum sejumlah fasilitas yang diperoleh peserta, yaitu:
1. Fasilitas penyelenggaraan Wisuda dan Angkat Sumpah;
2. Atribut Wisuda dan Angkat Sumpah;
3. Dokumentasi foto wisuda;
4. Konsumsi untuk satu orang wisudawan dan dua orang tua/wali wisudawan;
5. Pengelolaan ijazah, transkrip nilai, yudisium, dan foto ijazah;
6. Iuran alumni; dan
7. Sumbangan perpustakaan.
Pencantuman iuran alumni dan sumbangan perpustakaan menjadi salah satu hal yang dipertanyakan mahasiswa. Mereka mempertanyakan alasan kedua komponen tersebut dimasukkan dalam biaya wisuda.
“3jt for gradu dalam sehari emang ga worthit si, apalagi diketerangan tertulis sumbangan perpustakaan, iuran alumni dll, itu masuknya udah diluar konteks wisuda. Apalagi sehari juga ga mungkin full kan? Paling ngga 3 jam dalam ruangan, pasti dalam sehari dibagi jadi 2 sesi.” Ucap Salah seorang mahasiswa yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan keberatan melalui percakapan pada Senin, 7 September 2026 pukul 12.47 WIB.
“Gratis kudunya mah. Online ajala wisudanya lagi banyak abu vulkanik gitu. Ga penting bgt lagian wisuda. Wis lah ijazah nya kirim di drive aja.” Ucap Mahasiswa lainnya pada pukul 12.50 WIB turut mempertanyakan urgensi pelaksanaan wisuda dalam kondisi tertentu.
Sementara itu, mahasiswa lainnya menilai pembayaran wisuda sebenarnya dapat dipahami sepanjang komponen biaya yang dibebankan relevan dengan kebutuhan penyelenggaraan. “Kampus sebelah aja gratis wkwk, Ya maksud gue gapapa bayar, tapi ya gausah sama iuran alumni, sumbangan perpustakaan dll, itu mah udah bukan ranah wisuda. Lagian kan graha jg punya faletehen punya yayasan, jadi kenapa membebankan.” Senin, 7 September 2026.
Graha Faletehan Ikut Disoroti: Kapasitas, Kenyamanan hingga Parkir
Selain nominal, mahasiswa menyoroti lokasi penyelenggaraan wisuda yang disebut berlangsung di Graha Faletehan.
Dengan jumlah peserta sekitar 350 wisudawan sekali gelombang, ditambah dua orang tua atau pendamping untuk setiap wisudawan, sejumlah mahasiswa menilai kapasitas dan kenyamanan lokasi perlu menjadi perhatian.
Beberapa mahasiswa menggambarkan kondisi Graha Faletehan sebagai panas, gerah, dan penuh sesak. Keterbatasan fasilitas, termasuk pendingin ruangan yang dinilai kurang optimal serta area parkir yang dianggap sempit, turut menjadi sorotan.
Salah seorang mahasiswa bahkan mengusulkan agar pelaksanaan wisuda dilakukan di gedung atau luar kampus yang dinilai lebih sesuai.
“Sebaiknya utk biaya 3jt itu diluar kampus, bisa menyewa gedung/di hotel kan bisa. Kenapa harus di graha? Yang notabenenya masih fasilitas kampus? Udah gitu dibagi jadi 2 sesi lagi dalam sehari”. Pernyataan tersebut disampaikan mahasiswa yang meminta identitasnya dirahasiakan pada Senin, 7 September 2026.
Audiensi Mahasiswa dengan Wakil Rektor. Berbagai persoalan tersebut kemudian dibahas dalam audiensi mahasiswa bersama Wakil Rektor Universitas Faletehan pada Senin, 7 September 2026.
Dalam audiensi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan yang mencakup sistem pembagian sesi atau war, biaya, dan lokasi penyelenggaraan wisuda. Menanggapi persoalan lokasi dan biaya, Wakil Rektor menjelaskan bahwa pembiayaan wisuda di Graha Faletehan sebelumnya berada pada angka sekitar Rp2,5 juta.
Menurutnya, pihak universitas sempat melakukan negosiasi dengan yayasan karena terdapat pertimbangan mengenai kapasitas dan potensi kemacetan apabila seluruh rangkaian wisuda dilaksanakan di lokasi tersebut.
Wakil Rektor juga menjelaskan bahwa setelah dua gelombang pelaksanaan wisuda di luar kampus, pihak yayasan mempertanyakan alasan pembangunan Graha Faletehan apabila kegiatan wisuda justru diselenggarakan di luar.
Pelaksanaan wisuda kemudian kembali diuji coba di Graha Faletehan pada gelombang ketiga. Menurut penjelasan pihak universitas, yayasan telah menyetujui perbaikan fasilitas Graha Faletehan, termasuk area gedung, toilet, dan penerangan.
Terkait perbandingan biaya dengan pelaksanaan wisuda di hotel, pihak universitas menyatakan bahwa biaya tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena komponen pembiayaannya berbeda.
Wisuda di hotel disebut memiliki paket konsumsi. Sementara penggunaan gedung sendiri membuat pihak penyelenggara harus menanggung lebih banyak komponen biaya, termasuk konsumsi, sehingga dapat menimbulkan defisit.
Transparansi Biaya Jadi Sorotan. Persoalan transparansi menjadi salah satu poin yang dipertanyakan mahasiswa.
Pihak Wakil Rektor menjelaskan bahwa wisuda merupakan bagian dari kegiatan akademik dan bukan kegiatan kemahasiswaan. Wisuda disebut sebagai tahap akhir dari proses pendidikan sehingga rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB) panitia tidak dapat ditampilkan kepada mahasiswa.
Pihak universitas juga menjelaskan bahwa nominal Rp3.000.000 tidak seluruhnya diperuntukkan untuk pelaksanaan prosesi wisuda. Di dalamnya terdapat komponen lain yang berkaitan dengan proses akhir pendidikan.
Terkait nominal, pihak universitas menegaskan bahwa harga sebenarnya tidak mengalami kenaikan.
Biaya Rp2.500.000 pada periode sebelumnya disebut berlaku dalam kondisi pandemi COVID-19, ketika hanya satu pasangan orang tua atau pendamping yang diperbolehkan hadir.
Sementara itu, kenaikan menjadi Rp3.000.000 disebut berkaitan dengan bertambahnya jumlah orang tua atau pendamping serta komponen konsumsi ketika pelaksanaan dilakukan di hotel/ luar kampus pada periode sebelumnya.
Untuk pelaksanaan dua gelombang dalam satu hari, pihak universitas menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk efisiensi karena penyewaan tempat hanya dilakukan satu kali, sekaligus sebagai upaya mengatasi persoalan kemacetan.
Sementara mengenai sistem war, pihak universitas menyebut kebijakan tersebut bertujuan memberikan kesempatan yang adil bagi mahasiswa yang menyelesaikan proses yudisium lebih akhir.
Panitia: Wisuda di Kampus Memiliki Banyak Biaya Tak Terduga. Panitia wisuda turut memberikan penjelasan mengenai struktur biaya.
Menurut panitia, apabila dibandingkan dengan harga pelaksanaan di hotel dan dua tahun sebelumnya, terdapat faktor inflasi yang memengaruhi biaya. Panitia juga menyebut biaya pelaksanaan wisuda per peserta berada di atas Rp500.000.
Panitia mengakui bahwa dari sisi penyelenggaraan, pelaksanaan wisuda di hotel sebenarnya lebih diinginkan karena dianggap lebih praktis.
Namun, apabila dilaksanakan di kampus, terdapat sejumlah biaya tak terduga, mulai dari perizinan, pengaturan parkir, hingga kebutuhan melibatkan pemuda di sekitar lokasi.
Panitia juga menyampaikan bahwa pada sejumlah kampus lain, biaya perpustakaan dapat dipisahkan dari biaya wisuda.
Sementara itu, Ketua Panitia Wisuda, Pak Dedih, menyampaikan bahwa faktor inflasi menjadi salah satu pertimbangan dalam pembiayaan. Ia juga menyatakan bahwa aspirasi mahasiswa yang disampaikan dalam audiensi akan dibawa kepada Rektor untuk menjadi bahan pembahasan lebih lanjut.
Mahasiswa Kembali Mempertanyakan Kebijakan Wisuda. Penjelasan pihak universitas dan panitia tersebut kemudian kembali mendapat tanggapan dari mahasiswa.
Salah seorang mahasiswa yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait keberadaan Graha Faletehan, transparansi pembiayaan, serta komponen tertentu dalam biaya wisuda.
“Izin, ada beberapa pertanyaan dari hal ini.
1. Utk poin 2, kenapa graha ga di jadikan kelas saja? Kan Faletehan kekurangan kelas.
2. Terus, kenapa di adakan graha faletehan kalo graha nya saja berbayar? Bukankah dari awal sudah ada kesepakatan kalau graha faletehan itu termasuk fasilitas kampus?
3. Soal transparansi, kenapa ditutupi? Kalau yang menjadi masalah adalah rab panitia kenapa yang di paparkan hanya benefitnya aja? Kenapa mereka ga memaparkan keuntungan yang mereka ambil seberapa persen? Hal ini bukankah dirasa kurang adil?”.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 7 September 2026.
Persoalan Wisuda Diharapkan Menjadi Bahan Evaluasi. Berbagai keluhan yang disampaikan mahasiswa diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi Universitas Faletehan, khususnya terkait transparansi biaya, komponen pembiayaan, lokasi penyelenggaraan, fasilitas, serta mekanisme pelaksanaan wisuda.
Mahasiswa pada prinsipnya tidak hanya mempertanyakan nominal Rp3.000.000, tetapi juga meminta kejelasan mengenai dasar penetapan biaya, komponen yang dibayarkan, serta kesesuaian antara biaya yang dikeluarkan dengan fasilitas dan layanan yang diterima.
Hingga berita ini disusun, aspirasi mahasiswa dalam audiensi disebut akan dibawa oleh panitia dan pihak terkait kepada Rektor Universitas Faletehan untuk menjadi bahan pembahasan lebih lanjut.

