Pencarian Arupadhatu 1 Diperluas hingga Bengkulu, Delapan Orang Masih Belum Ditemukan - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

Pencarian Arupadhatu 1 Diperluas hingga Bengkulu, Delapan Orang Masih Belum Ditemukan

Thursday, 17 September 2026

Warta Global Banten | BANTEN — Tim SAR gabungan masih mencari lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Memasuki hari kesembilan pada Rabu (16/9/2026), keberadaan delapan orang tersebut belum diketahui.Rombongan tersebut berada di dalam speedboat Arupadhatu 1 untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Operasi pencarian kini diperluas berdasarkan perhitungan arus, angin, gelombang, serta kemungkinan pergeseran objek di laut. 

Kronologi kejadian

Speedboat Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga kru, yakni kapten Warta (55), anak buah kapal Surakman (60), serta pemandu Heriyanto (49). Lima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis atau Yudistiro Pranoto dari iNews, Daus atau Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas. 

Pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Perjalanan menuju lokasi diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua jam. 

Sebelum berangkat, salah satu jurnalis sempat mengirimkan foto dirinya bersama rekan-rekannya di dalam kapal kepada keluarga. Sekitar pukul 14.42 WIB, salah satu anggota rombongan juga mengirimkan titik lokasi terakhir kepada rekannya. Koordinat tersebut berada sekitar 20 kilometer dari pantai Banten dan sekitar 30 kilometer dari Pulau Rakata. 

Sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan terputus. Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi dengan keluarga maupun informasi mengenai keberadaan speedboat Arupadhatu 1. 

Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten menerima laporan mengenai hilangnya rombongan tersebut pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB. Tim Rescue USS Pandeglang kemudian bergerak menggunakan RIB 02 Banten untuk menyisir arah Gunung Anak Krakatau, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. 

Pada hari yang sama, KN SAR Tetuka 247 turut bergerak menuju lokasi pencarian. Kapal tersebut sempat mendekati perairan Sangiang, tetapi kondisi arus yang kuat membuat kapal tidak dapat lego jangkar. Penyisiran kemudian dilanjutkan hingga Pelabuhan Ciwandan, namun belum membuahkan hasil. 


Operasi pencarian dilanjutkan pada Rabu (9/9/2026) dengan melibatkan Basarnas Banten, Basarnas Lampung, TNI, Polri, Polairud, pemerintah daerah, nelayan, relawan, serta unsur terkait lainnya. Tim mengerahkan kapal SAR, RIB, drone thermal, peralatan komunikasi, dan perlengkapan SAR air. 

Temuan selama pencarianSalah satu sinyal telepon sempat terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Lampung. Namun, setelah lokasi tersebut disisir, tim SAR tidak menemukan rombongan maupun tanda-tanda keberadaan mereka. Pihak kepolisian menjelaskan bahwa sinyal tersebut merupakan pancaran terakhir saat perangkat masih aktif, bukan pelacakan posisi secara langsung. 

Tim SAR juga menemukan sejumlah benda terapung, antara lain jaket pelampung, pelampung oranye, jeriken, helm, terpal, dan galon. Setelah diperiksa, benda-benda tersebut dipastikan bukan perlengkapan milik Arupadhatu 1. 

Pada 12 September 2026, seorang laki-laki tanpa identitas ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Pulau Enggano, Bengkulu. Jenazah tersebut kemudian diperiksa dan dicocokkan dengan data keluarga delapan orang yang hilang, tetapi hasil pemeriksaan awal tidak menunjukkan kecocokan. 

Area pencarian diperluas

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Banten, Al Amrad, mengatakan area pencarian pada hari kesembilan diperluas hingga arah tenggara Gunung Anak Krakatau dan wilayah perairan Bengkulu.

Menurut Amrad, tim SAR gabungan dibagi menjadi delapan sektor dengan luas total pencarian sekitar 3.439 mil laut persegi. Sebelumnya, pencarian juga dilakukan dengan mengerahkan 18 kapal dan satu helikopter di area sekitar 6.649 mil laut persegi. 

Perluasan area dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan rombongan atau bagian kapal terbawa arus laut. Tim SAR terus mengevaluasi wilayah pencarian dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arah angin, gelombang, dan arus yang berubah-ubah. 

Hingga Rabu (16/9/2026), pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru Arupadhatu 1 masih belum menemukan hasil. Operasi SAR dijadwalkan terus dilanjutkan dengan mengerahkan unsur gabungan dan memperbarui sektor pencarian berdasarkan informasi terbaru di lapangan.