Haji Nikmatullah Tegaskan Tambang Batu di Gerem Harus Ditutup Permanen - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

Haji Nikmatullah Tegaskan Tambang Batu di Gerem Harus Ditutup Permanen

Monday, 5 January 2026
Cilegon – Haji Nikmatullah menegaskan penolakannya terhadap aktivitas tambang batu yang berada di samping rumahnya dan berdekatan dengan Kantor Kelurahan Gerem. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara bersama media Wilip Online di kediamannya, Kelurahan Gerem, pada Senin (05/01/2026).

Menurut Haji Nikmatullah, keberadaan tambang tersebut sudah menjadi perbincangan luas di masyarakat atau media sosial karena dampaknya yang sangat meresahkan dan merusak lingkungan sekitar.

“Tambang di samping rumah saya dan di samping Kelurahan Gerem itu sudah jadi buah bibir di mana-mana. Saya tegaskan, kegiatan itu harus dihentikan.
Tidak ada kata damai atau mediasi karena dampaknya sangat luar biasa,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sekitar enam bulan lalu, tepatnya bulan Oktober, sempat dilakukan mediasi dan kegiatan tambang sempat dihentikan di sekitar rumahnya. 

Namun aktivitas tambang tersebut kembali lagi beroperasi nah disinilah mulai lagi terjadi keresahan di hati saya dan keluarga karna getaran di rumah saya terasa langsung kebangun rumah.

“Getarannya sangat terasa di rumah saya karena lokasi tambang itu sudah terlalu dekat dengan tembok rumah. Ini jelas membahayakan keluarga saya. Kalau sampai rumah saya roboh akibat ulah penambang, saya akan menuntut sampai ke mana pun,” ujarnya.

Haji Nikmatullah menyebutkan bahwa aktivitas pemecahan batu dengan breaker dikhawatirkan merusak pondasi rumah. Kekhawatiran tersebut terbukti ketika musim hujan, di mana pondasi rumah mengalami perembesan air.

“Kalau hujan, air rembes dari batu pondasi. Selain itu, akibat pembrekeran yang terlalu dalam, air sumur bor saya jadi kotor dan berlumpur,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama 20 tahun air sumur bor di rumahnya selalu jernih, bersih, dan layak konsumsi. Namun sejak adanya aktivitas tambang, kualitas air berubah drastis.

“Sekarang airnya keruh, bahkan berwarna merah. Jangankan diminum, buat cuci muka saja sudah tidak layak. Padahal dulu, hujan sebesar apa pun air sumur tetap jernih,” ungkapnya.

Dampak tersebut semakin terasa saat hujan deras di awal hingga pertengahan Januari. Rembesan air muncul di dapur, merambat ke bagian pondasi, hingga muncul kembali di bagian depan rumah. Meski hujan telah berhenti, air berwarna kemerahan tetap mengalir.

“Pas tahun baru hujan deras sampai banjir. Paginya kami sedot sumur bor, air yang keluar ke kamar mandi warnanya merah semua. Itulah dampak tambang,” katanya.
Atas kejadian tersebut, Haji Nikmatullah mengaku telah melaporkan persoalan ini kepada RT, RW, dan pihak Kelurahan Gerem, dengan harapan seluruh unsur masyarakat dan pemerintah setempat dapat bersikap kompak menanggapi permasalahan tambang tersebut.

Ia juga menyampaikan ultimatum tegas.

“Tambang itu harus ditutup selamanya. Kalau tidak, masyarakat akan melakukan aksi besar-besaran. Tidak ada kata mediasi. Siapa pun yang ada di belakang tambang itu, mau bintang tujuh atau bintang sepuluh, saya siap lawan. Saya sudah wakafkan diri saya untuk Kelurahan Gerem,” tegasnya lantang.

Haji Nikmatullah juga mengungkapkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon telah turun langsung ke lokasi dengan sekitar 10 personel. DLH melakukan peninjauan lapangan, melihat langsung kondisi rumah yang mengalami perembesan serta mengambil sampel air sumur yang terbukti keruh dan kotor.

“DLH siap memfasilitasi dan mendukung laporan saya, bahkan sampai ke tingkat provinsi. Mereka juga menyampaikan bahwa perizinan tambang berada di kewenangan provinsi,” jelasnya.

Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa aktivitas tambang yang tidak terkendali dapat membawa dampak serius bagi keselamatan warga dan kelestarian lingkungan.