
Warta Global Banten | Florida - Ini bukan cerita fiksi. Ini adalah kasus nyata yang terjadi di Florida
Bayangkan Anda sedang sendirian.
Tidak ada teman untuk diajak bicara. Tidak ada keluarga yang ingin mendengar. Tidak ada orang yang akan menghakimi.
Anda membuka ChatGPT.
Anda mengetik apa saja yang ada di kepala: masalah pekerjaan, konflik rumah tangga, hubungan dengan pasangan, kondisi keuangan, kecemasan, bahkan rahasia yang selama ini tidak pernah Anda ceritakan kepada siapa pun.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin selama ini tidak pernah terpikirkan:
Seberapa pribadi sebenarnya percakapan kita dengan ChatGPT?
Sebuah kasus di Florida pada 2026 memberikan gambaran yang sangat nyata.
Pada Maret 2026, Darren Zhou, 25 tahun, seorang analis finansial Goldman Sachs di Florida, menggunakan ChatGPT setelah hubungan asmaranya berakhir.
Awalnya, percakapan itu terdengar seperti curhat biasa. Namun, percakapan kemudian berubah menjadi pembicaraan mengenai rencana kekerasan terhadap mantan pacarnya.
Pada awalnya, percakapan itu tampak seperti percakapan seseorang yang sedang menghadapi persoalan pribadi.
Namun kemudian arahnya berubah.
Zhou mulai berbicara mengenai mantan pacarnya dengan nada yang semakin mengkhawatirkan. Dalam percakapan dengan ChatGPT, ia mengungkapkan keinginan untuk membunuh perempuan tersebut.
Salah satu kalimat yang muncul dalam percakapannya:
“If I can't have her then nobody can.”
Ia juga membicarakan skenario yang jauh lebih konkret. Ia membayangkan menunggu mantan pacarnya di tempat parkir gym. Ia akan membawa bunga. Jika perempuan itu menolaknya, ia mengatakan akan menembaknya dan kemudian mengakhiri hidupnya sendiri.
Ini bukan lagi sekadar curhat tentang patah hati. Percakapan telah bergerak ke arah ancaman dan rencana kekerasan di dunia nyata.
Lalu sesuatu terjadi di balik layar
Sistem keamanan OpenAI mendeteksi percakapan tersebut sebagai indikasi risiko kekerasan serius.
OpenAI menjelaskan bahwa mereka menggunakan kombinasi sistem otomatis dan peninjauan manusia untuk mendeteksi pelanggaran dan risiko tertentu. Untuk kasus yang dinilai menunjukkan risiko serius terhadap keselamatan, percakapan dapat dieskalasikan untuk pemeriksaan lebih mendalam. Jika terdapat indikasi ancaman yang kredibel dan segera terhadap orang lain, OpenAI menyatakan dapat menghubungi aparat penegak hukum.
Dalam kasus Zhou, informasi tersebut akhirnya sampai kepada FBI. Penyelidikan kemudian diteruskan kepada aparat Palm Beach County, Florida.
Pada Mei 2026, Zhou ditangkap.
Kasus yang awalnya berlangsung di layar laptop kemudian masuk ke dunia nyata: penyelidikan polisi, penangkapan, pengadilan, dan proses hukum.
Pada Agustus 2026, Zhou mengaku bersalah. Pengadilan menjatuhkan delapan tahun masa percobaan dan pemantauan elektronik selama dua tahun. Goldman Sachs juga mengakhiri hubungan kerjanya dengan Zhou.
Sebuah percakapan dengan AI ternyata tidak berhenti sebagai percakapan.
Apakah ChatGPT membaca semua percakapan kita? Tidak sesederhana itu.
Kasus ini tidak berarti setiap kali seseorang mengetik sesuatu di ChatGPT, ada manusia di OpenAI yang duduk membaca percakapannya.
OpenAI menyatakan bahwa mereka menggunakan sistem otomatis untuk mendeteksi konten yang berpotensi melanggar kebijakan. Konten tertentu kemudian dapat ditinjau oleh manusia. Menurut OpenAI, peninjauan manusia ditujukan untuk kasus-kasus yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
OpenAI juga secara khusus menyebut ancaman terhadap keselamatan manusia sebagai salah satu kategori yang dapat menyebabkan eskalasi.
Artinya, ada perbedaan besar antara:
“Saya sedang curhat kepada AI.”
dan
“Saya sedang menyampaikan rencana konkret untuk melukai seseorang.”
Ketika percakapan memasuki wilayah kedua, sistem keamanan dapat memperlakukannya secara berbeda. Tetapi persoalannya lebih luas daripada kasus pembunuhan. Di sinilah pertanyaan tentang privasi menjadi menarik.
Jutaan orang menggunakan ChatGPT bukan sekadar untuk mencari informasi. Mereka menggunakannya sebagai tempat berpikir.
Ada yang menceritakan masalah keluarga.
Ada yang membicarakan kondisi finansial.
Ada yang memasukkan dokumen pekerjaan.
Ada yang meminta bantuan menyusun surat pribadi.
Ada yang membicarakan masalah kesehatan.
Ada yang menceritakan konflik dengan atasan.
Ada pula yang memasukkan informasi perusahaan yang sebenarnya bersifat rahasia.
Semakin nyaman seseorang berbicara dengan AI, semakin besar kemungkinan informasi sensitif masuk ke dalam percakapan.
OpenAI sendiri mengingatkan pengguna agar tidak membagikan informasi sensitif di ChatGPT yang tidak ingin mereka digunakan atau ditinjau. Pengguna juga memiliki sejumlah kontrol terkait data, termasuk pengaturan data, memori, ekspor data, dan penghapusan akun. Ini merupakan pesan yang sangat penting.
AI bukan teman yang memiliki kewajiban kerahasiaan seperti pengacara
Ada kecenderungan manusia memperlakukan AI seperti manusia.
Kita mengatakan:
“Saya mau cerita sesuatu.”
Kemudian ChatGPT menjawab dengan bahasa yang empatik. Respons seperti itu membuat percakapan terasa personal. Tetapi secara teknologi dan hukum, AI bukan sahabat pribadi. ChatGPT adalah layanan digital.
Percakapan berlangsung melalui sistem komputer, disimpan dan diproses berdasarkan kebijakan layanan yang berlaku.
Dan dalam keadaan tertentu, data pengguna dapat diakses atau diungkapkan sesuai proses hukum maupun mekanisme keselamatan yang berlaku.
Kebijakan penegakan hukum OpenAI juga menyatakan bahwa dalam keadaan terbatas, data pengguna dapat diberikan kepada aparat ketika OpenAI menilai pengungkapan tersebut diperlukan untuk mencegah keadaan darurat yang melibatkan risiko kematian atau cedera fisik serius.
Jadi, istilah yang lebih tepat bukan:
“ChatGPT membocorkan rahasia kita.”
Melainkan:
“Percakapan dengan layanan AI memiliki aturan privasi, mekanisme keamanan, dan kondisi tertentu yang memungkinkan akses atau pengungkapan data.”
Itulah perbedaannya.
Pelajaran dari Darren Zhou
Kasus Darren Zhou sebenarnya bukan sekadar cerita tentang seseorang yang menggunakan ChatGPT untuk merencanakan kekerasan.
Ia memperlihatkan perubahan besar dalam hubungan manusia dengan teknologi.
Dulu kita berbicara kepada teman.
Kemudian kita menulis buku harian.
Setelah itu kita mengirim pesan melalui WhatsApp.
Sekarang kita berbicara kepada kecerdasan buatan.
Bedanya, AI dapat menjadi sangat responsif. Ia tidak tidur. Tidak bosan. Tidak memotong pembicaraan. Dan dapat merespons hampir kapan saja.
Karena itulah orang semakin mudah memperlakukannya seperti ruang pribadi.
Padahal rasa privat dan privasi teknis adalah dua hal yang berbeda.
Sebuah percakapan bisa terasa sangat pribadi bagi kita, tetapi tetap berlangsung di dalam sebuah layanan digital yang memiliki sistem penyimpanan, keamanan, moderasi, dan aturan hukum.
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan?
Bukan berarti kita harus berhenti menggunakan ChatGPT. Justru yang diperlukan adalah literasi digital yang lebih matang.
Jangan memasukkan informasi yang sebenarnya tidak perlu. Jangan memasukkan password, PIN, nomor rekening, atau kredensial rahasia. Berhati-hatilah ketika memasukkan data pribadi orang lain. Untuk dokumen pekerjaan, pertimbangkan apakah informasi identitas dan data rahasia benar-benar perlu dimasukkan.
Dan untuk percakapan yang sangat sensitif, pahami terlebih dahulu pengaturan data dan privasi layanan yang sedang digunakan.
OpenAI sendiri menyediakan sejumlah kontrol bagi pengguna untuk mengelola data dan memori mereka. Namun ada satu batas yang tidak boleh dilupakan. Privasi bukan berarti kekebalan.
Kasus Darren Zhou menunjukkan bahwa ketika sebuah percakapan berubah menjadi indikasi ancaman kekerasan yang serius, teknologi yang semula menjadi tempat seseorang berbicara dapat menjadi bagian dari rangkaian tindakan keselamatan dan penegakan hukum.
Maka, sebelum mengetik sesuatu kepada AI, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita biasakan:
“Apakah saya nyaman jika informasi ini suatu hari harus ditinjau dalam konteks keamanan atau proses hukum?”
Tidak semua yang kita pikirkan harus kita masukkan ke dalam mesin. Sebab di era kecerdasan buatan, apa yang kita anggap sebagai percakapan pribadi tetap merupakan data yang berada di dalam sebuah sistem.

