
Warta Global Banten | MANILA — Pantun khas Indonesia tampil dalam suasana berbeda di forum internasional UNI Apro Care di Manila, Filipina, tanggal 13-14 September 2026. Bukan dalam bahasa Indonesia, pantun tersebut justru disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Hengky Suryo W., Ketua Sektor Kesehatan dan Farmasi Federasi ASPEK Indonesia sekaligus Ketua Umum Serikat Karyawan Krakatau Medika (SKKM).
Mengenakan kemeja batik khas Nusantara, Hengky membuka presentasinya di hadapan peserta konferensi dari berbagai negara dengan memperkenalkan pantun sebagai salah satu kekayaan tradisi Indonesia.
“Before I begin my presentation, with your permission, I would like to start with a traditional Indonesian pantun. A pantun is a traditional Indonesian rhyming poem consisting of an introduction and a main message.”
Hengky kemudian membacakan pantun pembuka:
“Across the seas, we come as one,
Sharing ideas beneath the sun.
Different nations, one common care,
Standing together, fair and square.”
Pantun tersebut membawa pesan bahwa meski peserta konferensi berasal dari berbagai negara, mereka memiliki kepedulian yang sama terhadap masa depan sektor care dan perlindungan pekerjanya.
Dalam bahasa Indonesia, maknanya adalah:
Melintasi lautan, kita datang sebagai kesatuan,
Berbagi gagasan di bawah sinar matahari.
Berbeda negara, namun satu kepedulian,
Bersama memperjuangkan keadilan.
Batik dan Pantun di Panggung Internasional
Penampilan Hengky dengan batik Nusantara semakin memperkuat nuansa Indonesia dalam forum tersebut.
Batik menjadi identitas visual yang dibawa Hengky ketika menyampaikan berbagai persoalan pekerja kesehatan Indonesia, mulai dari kekurangan dan distribusi tenaga kesehatan, beban kerja, upah layak, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga perlindungan sosial.
Ia juga memaparkan tantangan pekerja care seiring meningkatnya kebutuhan layanan bagi lanjut usia, serta perkembangan digitalisasi dan artificial intelligence (AI) di sektor kesehatan.
Menurut Hengky, transformasi teknologi harus tetap menempatkan pekerja sebagai bagian penting dalam proses perubahan.
“AI should be used to support and strengthen workers, not become a reason to reduce or replace them.”
Ia menekankan pentingnya keterlibatan pekerja dan serikat pekerja dalam perencanaan, penerapan teknologi, pelatihan, perlindungan data, hingga penilaian risiko.

Ditutup dengan Pantun Solidaritas
Nuansa Indonesia kembali hadir pada bagian akhir presentasi. Hengky menutup paparannya dengan pantun berbahasa Inggris yang membawa pesan mengenai pekerjaan layak dan solidaritas pekerja.
“From Manila we share our voice,
For decent work and workers’ choice.
Across Asia, hand in hand,
Together stronger, together we stand.”
Pantun tersebut bermakna:
Dari Manila kita menyuarakan aspirasi,
Untuk pekerjaan layak dan hak menentukan pilihan bagi pekerja.
Di seluruh Asia, bergandengan tangan,
Bersama kita lebih kuat dan berdiri teguh.
Pesan itu sejalan dengan agenda UNI Apro Care Regional Action Plan 2026–2027, yang mencakup pengorganisasian pekerja sektor care, penguatan serikat di sektor rentan seperti community health workers dan aged care, perlindungan pekerja migran, advokasi Konvensi PBB tentang Lanjut Usia, serta tata kelola transisi AI yang etis.
Bagi ASPEK Indonesia, forum tersebut menjadi ruang untuk membawa perspektif pekerja kesehatan Indonesia ke tingkat regional sekaligus memperkuat kerja sama serikat pekerja dalam menghadapi perubahan di sektor care.
Pantun yang dibawakan Hengky menjadi pembuka dan penutup yang sederhana, tetapi memberikan warna tersendiri: budaya Indonesia hadir di tengah forum internasional, berdampingan dengan perjuangan untuk pekerjaan layak dan perlindungan pekerja.

