GWI Tegaskan Pers Harus Kritis Berbasis Fakta, Sinergi dengan Polri Tetap Profesion - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

GWI Tegaskan Pers Harus Kritis Berbasis Fakta, Sinergi dengan Polri Tetap Profesion

Saturday, 3 October 2026

PANDEGLANG, — Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) memberikan apresiasi kepada Ketua Umum GWI, Syamsul Bahri, yang dinilai konsisten mendorong hubungan pers dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui pendekatan edukasi, persaudaraan, dan profesionalisme. Sabtu 03-09-2026

Apresiasi itu tidak sekadar menyangkut sosok seorang pemimpin organisasi. Di tengah tuntutan terhadap pers yang semakin kuat untuk bekerja berdasarkan fakta dan data, GWI menilai kepemimpinan organisasi juga harus mampu menjaga keseimbangan antara membangun sinergi dengan pemerintah dan aparat penegak hukum serta tetap menjalankan fungsi kontrol sosial.

Melalui GWI Press Office, BARON menyebut Syamsul Bahri sebagai sosok yang memiliki pengalaman panjang di dunia jurnalistik dan dinilai mampu memberikan edukasi kepada jajaran anggota GWI mengenai pentingnya profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Menurut BARON, GWI harus menjadi ruang bagi wartawan untuk menyampaikan fakta lapangan secara bertanggung jawab, berpegang pada data, serta memahami ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

"GWI kuat karena bersatu, bersatu karena kuat. Di bawah komando Ketum Syamsul Bahri, GWI bergerak untuk rakyat, mengawal program pemerintah yang pro rakyat, dan tetap kritis yang membangun," ujar BARON.

Pernyataan tersebut menempatkan sinergi dan sikap kritis sebagai dua hal yang tidak harus dipertentangkan. Pers dapat membangun komunikasi dengan Polri dan pemerintah, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki tanggung jawab menjalankan fungsi kontrol sosial.

Bagi organisasi pers, tantangannya adalah memastikan sinergi tidak bergeser menjadi kehilangan independensi. Sebaliknya, sikap kritis juga perlu dibangun melalui verifikasi, keberimbangan, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik serta ketentuan hukum yang berlaku.

Karena itu, apresiasi terhadap Syamsul Bahri sekaligus membawa pesan lebih luas: organisasi wartawan tidak cukup hanya kuat secara struktural, tetapi juga harus mampu menjaga kualitas jurnalistik dan kepercayaan publik.

Pers boleh bersinergi, tetapi fungsi kontrol tetap harus berdiri. Kritik boleh tajam, tetapi fakta harus menjadi pijakan.

Di titik itulah, GWI menempatkan kepemimpinan Syamsul Bahri sebagai bagian dari upaya membangun hubungan pers dan Polri yang komunikatif, profesional, sekaligus tetap menghormati independensi pers.