
Sindangsari — Kelompok 40 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) melaksanakan kegiatan sosialisasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) pada hari Jum’at, (14/08/2026), bertempat di Aula Kantor Desa Sindangsari, Kecamatan Petir. Kegiatan ini dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Sekretaris Desa, perangkat desa, Ketua Karang Taruna, Ketua RW, serta masyarakat setempat, khususnya warga yang memiliki usaha peternakan lele.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan sampah organik secara efektif dan berkelanjutan, sekaligus memberikan alternatif solusi dalam pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang lebih ekonomis.
Dalam sambutannya, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 40, Bapak Ahmad Mubarok, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Beliau menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan serta memanfaatkan potensi yang ada di sekitar. “Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami konsep pengelolaan sampah, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya volume sampah organik rumah tangga yang belum dikelola secara optimal, serta tingginya biaya pakan dalam usaha budidaya lele yang menjadi salah satu tantangan utama bagi peternak. Oleh karena itu, pemanfaatan maggot BSF dinilai sebagai salah satu solusi inovatif yang mampu menjawab kedua permasalahan tersebut secara bersamaan.
Materi pertama disampaikan oleh narasumber Kang Acun yang memaparkan tentang klasifikasi sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga residu. Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga, sebagai langkah awal dalam pengelolaan sampah yang efektif. Dalam penjelasannya, Kang Acun juga menyampaikan bahwa maggot BSF memiliki kemampuan sebagai pengurai alami yang mampu mengolah sampah organik, khususnya limbah dapur, secara cepat dan efisien.
Selain itu, dijelaskan pula bahwa hasil dari proses penguraian tersebut tidak hanya menghasilkan maggot yang kaya akan protein dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ikan lele, ayam, dan burung, tetapi juga menghasilkan kasgot (bekas maggot) yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis maggot memiliki nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Kang Agus Koswana yang menjelaskan secara teknis mengenai tahapan budidaya maggot BSF. Ia menguraikan proses budidaya mulai dari penetasan telur, pemeliharaan larva, pemberian pakan berupa sampah organik, hingga proses panen. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya konsistensi dan ketelatenan dalam menjalankan budidaya agar memperoleh hasil yang optimal.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoritis, tetapi juga gambaran praktis mengenai bagaimana memulai budidaya maggot dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Antusiasme masyarakat terlihat dari aktifnya peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung selama kegiatan.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong masyarakat Desa Sindangsari untuk lebih peduli terhadap pengelolaan lingkungan, khususnya dalam pengolahan sampah organik. Selain itu, pemanfaatan maggot BSF sebagai alternatif pakan ternak diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan serta menekan biaya produksi bagi para peternak.
Ke depan, KKM Kelompok 40 UNIBA berharap kegiatan ini dapat berlanjut pada tahap implementasi di masyarakat melalui praktik budidaya secara langsung. Dengan adanya dukungan dari pemerintah desa serta partisipasi aktif masyarakat, Desa Sindangsari berpotensi menjadi salah satu contoh desa yang mampu menerapkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular secara mandiri dan berkelanjutan.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa peningkatan pengetahuan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang dalam mendukung kelestarian lingkungan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Sindangsari.

