Perkuat Kesadaran Hidup Bersih, KKM 33 Gelar Edukasi Cuci Tangan bagi Siswa SDN Singarajan - Warta Global Banten

Mobile Menu

Top Ads

Serang

More News

logoblog

Perkuat Kesadaran Hidup Bersih, KKM 33 Gelar Edukasi Cuci Tangan bagi Siswa SDN Singarajan

Wednesday, 19 August 2026
Serang – Kebiasaan menjaga kebersihan tangan menjadi salah satu bagian penting dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama bagi anak-anak yang aktif beraktivitas di lingkungan sekolah. Untuk meningkatkan kesadaran tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa Kelompok 33 Desa Singarajan menggelar edukasi cuci tangan bagi siswa-siswi kelas V SDN Singarajan pada Jumat (31/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja Bidang Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan Masyarakat. Edukasi dilaksanakan sebagai upaya memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan, khususnya sebelum dan sesudah makan serta setelah melakukan berbagai aktivitas yang memungkinkan tangan bersentuhan dengan kotoran atau sumber kontaminasi.

Pentingnya edukasi tersebut juga berkaitan dengan aktivitas makan siswa di lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), terdapat kondisi ketika siswa mengonsumsi makanan secara langsung menggunakan tangan karena tidak tersedianya sendok sebagai alat makan. Selain itu, kebiasaan membeli dan mengonsumsi jajanan sekolah juga membuat kebersihan tangan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 33 berupaya mengenalkan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan siswa untuk menjaga kebersihan diri.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi menggunakan smart TV sebagai media penyampaian informasi. Materi disampaikan oleh mahasiswa KKM 33, yaitu Puput Armeilani dan Iksal Kamil, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa. Materi membahas pentingnya mencuci tangan, waktu yang tepat untuk mencuci tangan, serta cara mencuci tangan yang benar.

Dalam penyampaian materi, mahasiswa juga memperkenalkan enam langkah mencuci tangan. Siswa diberikan pemahaman mengenai tahapan membersihkan telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, bagian jari dan kuku, hingga bagian ibu jari secara menyeluruh. Materi tersebut disampaikan agar siswa tidak hanya mengetahui bahwa mencuci tangan penting, tetapi juga memahami bagaimana melakukannya dengan benar.

Penyampaian materi berlangsung secara interaktif. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa. Interaksi tersebut membuat peserta dapat menghubungkan materi dengan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari, terutama ketika makan dan beraktivitas di lingkungan sekolah.

Setelah pemaparan materi dan sesi tanya jawab selesai, kegiatan dilanjutkan dengan praktik mencuci tangan. Siswa diajak untuk mempraktikkan secara langsung enam langkah mencuci tangan yang telah dijelaskan sebelumnya. Melalui praktik tersebut, mahasiswa membantu siswa memahami urutan gerakan sekaligus memperkenalkan cara membersihkan bagian-bagian tangan yang sering terlewat.

Kegiatan praktik menjadi bagian penting dalam edukasi karena kebiasaan mencuci tangan tidak cukup hanya dipahami secara teori. Siswa perlu mengetahui sekaligus mempraktikkan langkah yang tepat agar kebiasaan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, edukasi yang diberikan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman selama kegiatan, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh peserta.

Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya kebersihan tangan serta cara mencuci tangan yang benar. Edukasi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap kebersihan sebelum menyentuh dan mengonsumsi makanan, terutama ketika menggunakan tangan secara langsung

Bagi mahasiswa KKM 33, kegiatan edukasi cuci tangan menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan pendidikan kesehatan sejak usia sekolah. Pemilihan siswa kelas V sebagai peserta juga diharapkan dapat membantu menanamkan kebiasaan hidup bersih yang dapat mereka terapkan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Pembentukan kebiasaan hidup bersih membutuhkan penerapan yang konsisten. Karena itu, keberlanjutan edukasi tidak hanya bergantung pada kegiatan yang dilakukan mahasiswa, tetapi juga membutuhkan dukungan dari pihak sekolah dan keluarga. Guru dapat terus mengingatkan siswa untuk mencuci tangan pada waktu-waktu penting, sementara orang tua dapat memperkuat kebiasaan tersebut di lingkungan rumah.

Mahasiswa KKM 33 berharap edukasi yang diberikan dapat menjadi pengetahuan sekaligus kebiasaan baru bagi siswa SDN Singarajan. Dengan membiasakan mencuci tangan menggunakan langkah yang tepat, siswa diharapkan semakin peduli terhadap kebersihan diri dan mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari.